Pantaskah disebut dengan kata "Maha"?

“Setiap tingkatan muda hendak selamanya menguasai pendahulu mereka” - Hatake Kakasi Temberang tersebut mengisyaratkan penulis di kondisi Indonesia sekarang. Sehabis lekat 63 tahun bebas, apakah Indonesia telah melampaui kejai pendahulunya, yaitu karet pejuang serta pahlawan kita yang telah menyerahkan kepada member negara yang kaya suka sumber kecakapan alam dan keanekaragaman budaya ini? Apakah kita, generasi muda, kelompok pada biasanya dan penuntut khususnya, sudah menjalankan peranannya masing-masing dengan baik?


Vokal ini dibuat terkait secara mahasiswa yang menjadi “*agent of change*” dari kerabat ini, yang menentukan apa-apa jadinya bangsa ini setengah dekade kedepan. Pencitraan kebuasan yang terbuat oleh praja sendiri maupun pemerintah sudah biasa mengubah paradigma masyarakat terhadap mahasiswa. Praja yang sepantasnya dekat dengan rakyat, yang seharusnya menyuarakan apa yang diinginkan orang kebanyakan, telah sebagai jauh dari masyarakat. Penuntut yang seharusnya mempertanyakan di setiap kebohongan yang ada sudah menjadi tokoh kebohongan. Penuntut yang adalah sosok pikiran berubah sebagai sosok yang anarkis dan penuh kebuasan.

Kenapa mampu berubah?
Kolektif seperti kita tidak siap mencegah tengah hari berganti ke malam, tentunya perubahan, menawan yang afirmatif maupun yang negatif, tidak dapat member hentikan. Reformasi memang diperlukan, namun ada baiknya perubahan itu selalu diawasi dan diarahkan ke petunjuk yang eksplisit.

Indonesia dilahirkan oleh persabungan mahasiswa yang belajar dalam negri Belanda. Pada kode itu (sekitar tahun 1940-an) mahasiswa punya peranan yang sangat besar dalam perlagaan melawan penjajah. Dari pidato-pidato Bung Karno yang membuat motivasi datang pendebat-pendebat penjajah di negri asing sebagaimana Perhimpunan Indonesia milik Bung Hatta semuanya melibatkan praja. Mahasiswa di dalam saat itu memiliki pernan penting dalam sejarah bangsa kita. Kira-kira hal tersebut yang menyebabkan perkembangan semesta Indonesia dari dulu hingga saat ini diidentikkan secara perkembangan trik mahasiswanya. Namun zaman sudah merembet.

Tak lagi sebagaimana di dalam zaman penjajahan yang mana kesinambungan kemajuan, urut-urutan, pertambahan, perurutan, perubahan, perurutan, urut-urutan, golongan ini masih berfokus di perkembangan taktis yang mencita-citakan banyak pidato-pidato yang cantik dan memotivasi orang-orang kebanyakan maupun debat-debat beserta teritori asing untuk mengemukakan suku, waktu ini perkembangan kerabat Indonesia condong lebih substansial & ukuran dalam faktor ekonomi alias finansial masyarakat ukuran demi kesejahteraan golongan. Kalau dulu kita membutuhkan ketekunan nasionalis dengan kerangka wujud / gerakan leluasa saat ini sudah berubah tersendiri. Member sekarang lebih memerlukan vitalitas nasionalisme dalam kerangka kesejahteraan hidup materi serta finansial daripada semangat tujuan antaralain penuntut pada masa dulu yang suka berpidato juga berkelahi.

Zaman sekarang kian dibutuhkan mahasiswa yang bisa berbuat sesuatu yang substansial dalam menciptakan kesentosaan, yang tentunya tidak dapat dicapai cuma dengan kicauan wujud. Beserta zaman serta tempat yang berubah, kebanyakan mahasiswa dalam negara kalian bukan mengikuti perkembangan itu, jadi pastinya pandangan masyarakat terhadap penuntut menjadi berubah.

Apa yang dapat dilakukan praja untuk negara?
Berpendapat daripada segala sesuatu yang telah dilakukan mahasiswa sekarang, tentunya kalian tahu, demonstrasi seperti yang dilakukan mahasiswa sekarang tidak menghasilkan apa-apa. Perdebatan-perdebatan maupun diskusi terungkap yang dikerjakan oleh kaum intelektual golongan ini pula hanya mengangkat dampak yang sangat kecil pada kemajuan bangsa dan negara member. Yang oleh karena itu pertanyaan, jika apa yang sudah dilakukan saat ini tak bisa menyelesaikan permasalahan kerabat ini, apa yang siap mahasiswa lakukan supaya kerabat ini dapat terus berkembang?

Kenyataannya, disaat bangsa menanggung penderitaan karena bervariasi marginalisasi yang dilakukan superior, kalian malahan melihat praja berisik tawuran antar sesamanya, sebagai pemakai narkoba, sebagai timbalan hedonisme dan materialisme terutama sebagai makelar ketatanegaraan superior yang korup. Jika demikian pantaskah gelar “maha” ini diletakkan dalam bahu penuntut?

Praja seharusnya mengerti bakal peranan yang dipikulnya sangat berat. Seperti tanda pepatah terlambat, “*with great power comes great responsibilities*”, mengemban nama “maha” tentunya membuat kalian memiliki tanggung jawab yang “maha” pula. Peranan sebesar segala sesuatu yang dipikul mahasiswa? Yaitu tanggung jawab untuk menetapkanmengukuhkan, menjadikan masa depan golongan tersebut, tanggung jawab untuk menentukan nasib ratusan juta orang2 rakyat Nusantara.

Menurut ajaran penulis, setidaknya ada 3 jenis praja yang terjumpa di Nusantara sekarang, yaitu:

Mahasiswa yang menjadikan demonstrasi hanya sebagai ajang untuk unjuk kekuatan, agar dirinya dapat dikenal sebagai kota yang sehati, mahasiswa yang ikut-ikutan demonstrasi untuk bolos masuk wejangan. Mahasiswa diantaranya ini tidak benar-benar memperdulikan rakyat maupun negaranya. & mahasiswa sebagaimana inilah yang biasanya melaksanakan aksi-aksi pendurhaka maupun terlibat dalam bertopang dengan aparat keamanan di saat demonstrasi.
Mahasiswa yang bukan mempedulikan kondisi ketatanegaraan sekitarnya. Mereka hanya mencoba untuk belajar dengan baik, yang penting berlabuh di kuliah, mengikuti ujian, dan valid dengan IP yang bagus. Mereka bukan memperdulikan apakah BBM bakal dinaikkan harganya, maupun siapa-siapa setimpal yang akan berperan serta di pemilu 2009.
Praja yang benar-benar memperhatikan serta memperdulikan nasib bangsa. Praja yang menyibukkan apa yang dapat dilakukan olehnya untuk kerabat tersebut. Mereka lazimnya menyuarakan keadilan, berdemonstrasi beserta aman dan mengikuti pranata, menjalankan perdebatan-perdebatan maupun diskusi untuk mengemukakan bangsa ini.
Celakanya (menurut pengamatan penulis), yang jadi minoritas ialah praja kelompok ketiga. Pereka swasembada meleng menjadi mahasiswa yang dikategorikan dalam golongan ke-2, yang kalaupun perduli, tak mengetahui apa yang mesti dilakukan untuk kerabat ini.

Melihat mahasiswa waktu ini, penuntut sudah biasa terdegradasi kemahaannya. Tempat telah menjadi medan baju show dan perkumpulan pemabuk maupun penjudi. Apakah penuntut yang seperti ini pas untuk menjadi penerus golongan kita? Apakah mereka pas menjadi penetap nasib ratusan juta arwah rakyat Indonesia?

Mahasiswa yang benar-benar menyegani nasib bangsanya tahu, jawaban dari inflasi dan seluruh kesulitan ekonomi bukanlah membawa hati dan memekik-mekik minta sokong. Jawaban dari tekanan perekonomian ialah peningkatan produktivitas. Fertilitas dimana-mana, indah di famili, di tempat kerja, ataupun di bangsa. Jadi, jawaban dari segala kesulitan sanak yang terdapat bukan dengan hanya sibuk berdemonstrasi.

Bergeraklah. Bekerjalah. Jalankan roda perekonomian negara kalian. Buka tempat kerja, berikan pendidikan yang meningkatkan daya produksi (yang dengan langsung mau pun tidak suka meningkatkan pendapatan). Belajar rusuh, karena saingan kita adalah Malaysia, Singapura, RRT, Korea, Filiphina, bahkan negara-negara rumit di barat seperti Inggris dan Amerika. Membuka zona kerja bukan hanya utama pada punya modal raksasa. Lapangan sikap terkadang berasal dari dorongan, pemikiran, serta usaha. Daripada berdemonstrasi yang seringkali habis dengan bertumbuk atau kesibukan anarkis kenapa tidak melaksanakan transfer pengertian dari yang sanggup mengusahakan pendidikan di perguruan menjulung ke tersebut yang bukan sanggup?

Maksimalkan kemampuan yang dimiliki. Sesuaikan apa yang dikerjakan dengan apa yang dipelajari. Praja Teknik siap melakukan penelitian ataupun mengurus barang-barang yang berguna untuk masyarakat pada berbagai tingkatan. Mahasiswa Ekonomi dapat memelopori unit-unit usaha secara struktural maupun menguraikan kebijakan-kebijakan perekonomian yang diambil oleh permerintahan sebuah negara. Mahasiswa Patokan dengan keahliannya dapat membuat masyarakat oleh sebab itu sadar serta taat hendak hukum. Nusantara memiliki terlalu banyak potensi yang tak digali. Kurang lebih penemuan mau pun inovasi yang dilakukan sambil kita sudah membuat negeri2 maju berdecak kagum.

Kembalikan pandangan masyarakat ke praja yang menjadi agent of change, * iron stock, dan *guardian of value. Agent of change tidak memerlukan semangat dari bangsa, karena bangsa kita pas pintar untuk menilai. Semasa kelihatannya mengangkat perubahan yang baik, kaum tentunya sosok mendukung beserta sendirinya. Kaum selalu deket dengan ini yang senasib dan sependeritaan, yang mengerti dan perduli dengan apa yang tersebut rasakan. Kaum tidak perduli apakah yang senasib & sepenanggungan beserta mereka ini adalah praja, presiden, / bahkan pedagang beca. Tak selalu menjadi patokan kalau mahasiswa itu dekat beserta rakyat. Jika yang dikerjakan hanya berpestapora, menyebabkan kerecokan, tidak perduli dengan stan, senang di atas beban orang unik, baik penuntut maupun penata laksana tentunya bakal menjadi jauh dengan orang kebanyakan.

Demonstrasi merupakan cara mengelokkan mudah dan paling sederhana untuk menunjukkan suatu aksi. Tidak perlu membaca organ yang tebal-tebal, tidak perlu termengung mengerjakan tugas-tugas kuliah, tak perlu berlatih keras berbulan-bulan hanya untuk mengerti satu mata penggemblengan, tidak perlu memikirkan buatan IP yang didapat, tidak perlu memperdulikan segala sesuatu yang kudu dilakukan 10 sampai 20 tahun kedepan, tanpa perlu menyibukkan apakah BBM di Indonesia masih cukup untuk rakyatnya 20 datang 30 tahun ke menempel. Yang berisi demo, kegiatan seperti itu dapat dikesampingkan.

Tapi, apakah kita mau dan ingin menjadi mahasiswa yang antaralain itu? Apakah kita wajar layak menyandang gelar “maha” bila kita berpikri sebagaimana itu? Pantaskah nasib 200 juta orang-orang dipertaruhkan dalam tangan member apabila member masih punya pemikiran yang demikian? Mari kita fungsi kemerdekaan kalian ini beserta hal-hal afirmatif yang siap memajukan bangsa ini. Kalian bangun golongan Indonesia sebagai bangsa yang besar & disegani disemua jagat. Lakukan perubahan tentang kategori ini agar member bisa benar-benar layak menyondang menggelar “maha”.

Hayukjalan.com